Amburadul, Data Pasien Covid-19 di Surabaya Bikin Camat Pusing

Ilustrasi Ilustrasi

SURABAYA: Semrawutnya data warga Surabaya yang terpapar virus korona (covid-19) membuat sejumlah camat kerepotan melakukan pelacakan. Data itu diterima dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim melalui Dinas Kesehatan Surabaya. 

Camat Genteng, Linda Novanti menceritakan pihaknya pernah menerima data ganda. Setelah ditelusuri ternyata hanya satu orang. Meski dalam data itu usianya berbeda. 

"Ada dua nama  yang usianya beda pula, namun tertulis di alamat yang sama," kata Camat Genteng, Linda Novanti, di Surabaya Kamis, 25 Juni 2020, melansir Antara.
 
Setelah dilacak pihak puskesmas, ternyata dua nama itu hanya ada satu orang dan telah lama meninggalkan Kota Surabaya. Warga itu mengaku ke Surabaya hanya untuk berobat.

"Artinya, di sini hanya ada satu warga, bukan dua. Tapi data yang kami terima itu ada dua orang. Datanya itu tertulis dobel. Kami sudah lakukan verifikasi dan sudah beres," terangnya.
 
Senada, Camat Wonokromo, Tomi Ardiyanto, mengaku kerap menemukan data tidak sinkron antara KTP dengan domisili. Kasus itu pernah ditemui ketika mencari data warga berinisial A. "Setelah ditelusuri ternyata warga tersebut sudah 30 tahun tidak tinggal di Surabaya," ungkap Tomi.
 
Ditegaskan Tomi, hal seperti itu sering ditemukan. Bahkan pihaknya butuh waktu untuk menemukan pergerakan orang tersebut karena ada di administrasi kependudukan, tapi tempat tinggal tidak sesuai domisili.
 
"Kami sudah tanyakan kepada warga setempat, RT/RW dan juga tetangga dekatnya," ujarnya.
 
Setelah melakukan verifikasi data tapi tidak ditemukan, langkah berikutnya adalah membuat berita acara atau surat keterangan. Dalam surat keterangan dilaporkan bahwa warga atas nama A itu tidak ada dalam wilayahnya.
 
"Kadang juga ada rumahnya yang kosong. Jadi, surat itulah yang menjadi dasar pemerintah kota kalau sudah melakukan verifikasi dan klarifikasi tentang keberadaan pasien konfirmasi covid-19 itu," ujarnya.
 
Lain lagi yang terjadi di Tambaksari,  Camat Ridwan Mubarun menuturkan pada 1 Juni 2020, seorang warganya terkonfirmasi covid-19 setelah melewati tes Swab Kemudian warganya menjalani karantina selama 14 hari di Asrama Haji, dan dites usap kembali dengan hasil negatif.
 
"Tapi namanya masih saja muncul sebagai orang yang positif. Dia ternotifikasi dua kali, sehingga itu menambah jumlah pasien covid-19 yang ada di Kota Surabaya," kata Ridwan.
 
Camat Sawahan, Yunus, juga mengakui hal yang sama. Dia menerangkan saat warganya sudah dinyatakan sembuh dan sudah dilaporkan, namun nama itu muncul kembali.
 
Dia mengungkap, kemunculan kembali nama warganya itu tidak hanya dalam satu dua hari, tapi setelah satu minggu berikutnya. Padahal sudah dinyatakan sembuh.
 
"Jadi, terkait data yang dobel itu nyata adanya. Kalau selisih sehari dua hari tidak ribet. Tapi kalau sudah seminggu atau sepuluh hari muncul lagi, nah ini sangat ribet. Ada yang sudah dilaporkan, tapi muncul lagi, dilaporkan lagi, muncul lagi. Ini kan aneh," terangnya.
 
Camat Karang Pilang, Eko Budi Susilo, juga menjelaskan berbagai kendala yang dialaminya. Namun, kata dia, berbagai kendala itu tidak menyurutkan niatnya untuk gencar melakukan tracing di wilayah Karang Pilang.
 
"Ada yang konfirm covid-19 tapi sama anggota keluarganya malah disembunyikan. Tapi kami terus berupaya dan berkunjung dengan tiga pilar, hingga akhirnya kami berhasil mengatasinya," katanya.
 


(TOM)

Berita Terkait