JAKARTA : Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menjelaskan bahwa saat ini dunia sedang memperkenalkan konsep yang disebut sebagai 3P (people, planet dan profit). Namun, menurutnya, pengusaha masih belum bisa menerapkan konsep ini dengan baik.
“Pengusaha ini hanya berbicara profit terus-menerus. People dan planet-nya diabaikan,” kata Anwar dalam diskusi virtual Crosscheck Medcom.id yang bertajuk “MUI Boikot Perancis, Siapa Menangis?“ pada Minggu, 8 November 2020.
Ia berharap ke depannya pengusaha dapat berpikir bukan hanya bagaimana mendapatkan profit, tetapi bagaimana membuat orang seperti karyawan, pengunjung, dan masyarakat juga merasa senang. Jadi menurutnya, seandainya masih ditemukan toko ritel yang memajang atau menjual barang produksi Perancis di daerah mayoritas Muslim, maka pengusaha tersebut dapat dikatakan tidak memiliki hati nurani.
Selanjutnya, Anwar sangat menghargai langkah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang mengimbau anggotanya untuk menyimpan atau tidak memajang produk Perancis di toko ritel.
“Menurut saya itu humanistik. Ada rasa peduli dan empati,” sebutnya.
Selain itu, ia menilai gerakan radikalisme dan terorisme bukanlah suatu aksi, tetapi reaksi. Ia mencontohkan peristiwa di Paris yang menewaskan seorang guru, Samuel Paty, setelah dipenggal oleh remaja asal Chechnya, Abduoullakh Abouyezidovitc merupakan bentuk dari reaksi. Sebab, kejadian tersebut terjadi setelah Paty mengajarkan kebebasan berpendapat dengan karikatur Nabi Muhammad SAW.
“Coba saya tanya, kalau guru tersebut tidak memperlihatkan gambar Nabi Muhammad SAW, terjadi nggak peristiwa tersebut? Saya rasa tidak terjadi,” ucap Anwar.
Kemudian, ia setuju dengan Macron yang mengutuk perbuatan Abduoullakh. Tetapi yang menurutnya keliru adalah semestinya Macron juga menyalahkan orang yang memprovokasi sehingga kejadian itu dapat terjadi.
“Mestinya Charlie Hebdo (majalah Perancis) itu dikutuk oleh dia (Macron). Karena Anda (majalah Charlie Hebdo) lah yang menjadi biang dari ini semua,” tegas Anwar.
Di samping itu, terkait dengan aksi sweeping yang dilakukan di sejumlah toko ritel, Anwar menyebut tindakan tersebut sudah melampaui batas. Terakhir, ia mengimbau, masyarakat boleh saja marah terhadap Perancis tetapi jangan sampai melakukan hal yang dilarang oleh agama.
“Dia (pelaku sweeping) memprotes sesuatu yang dilarang oleh agama tetapi dia juga melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama,” tegas Anwar.
Pada 30 Oktober 2020 lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan untuk melakukan boikot terhadap produk Perancis melalui surat pernyataan Nomor: Kep-1823/DP-MUI/X/2020. Seruan ini mencuat setelah Presiden Perancis Emmanuel Macron mengeluarkan pernyataan yang kontoversial. Macron telah melukai perasaan umat Islam di dunia dengan mengatakan “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.”
Selain itu, ia juga membiarkan majalah Charlie Hebdo untuk menerbitkan kembali karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW atas nama kebebasan berekspresi. Padahal, dalam kepercayaan Islam, Nabi tidak boleh digambarkan.
Lihat: Sekjen MUI Nilai Perancis Maling Teriak Maling
(ADI)