JOMBANG. Berdiri sejak 27 tahun lalu, depot sate kuda milik Bayu Wijayanto menjadi satu-satunya yang ada di Jombang. Kini, sate kuda bukan hanya diburu para pria, tapi juga kaum hawa.
Sudah bukan rahasia, selama puluhan tahun sate kuda menyandang simbol sebagai makanan "pria perkasa". Daging kuda diyakini bisa menambah stamina dan vitalitas.
Namun saat mengunjungi warung sate kuda di Jalan Raya Perak, Dusun Ngemplak, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Jombang, bukan hanya pria tapi juga wanita menyatap sate kuda.
"Selain rasanya enak, katanya juga bisa menghilangkan capek-capek.Dagingnya juga empuk. Sudah lumayan lama saya makan sate kuda ini, " ujar Revi Wati, salah satu pembeli.
Proses pembutan sate kuda ini sama persis dengan sate ayam maupun sapi pada umumnya. Daging kuda yang sudah dipotong. kemudian diiris sesuai ukuran dan diberi tusuk bambu.
Bedanya, agar daging terasa empuk, seluruh daging tersebut kedalam rendaman air buah nanas. Jika tidak, maka daging kuda akan terasa keras saat dimakan.
Sementara pemilik depot sate kuda, Bayu Wijayanto mengatakan daging sapi ini langsung didatangkan dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Setiap minggu bisa menghabiskan 60 kilogram daging kuda.
"Daging kudanya kita beli dari Sumbawa. Dulu awal-awal yang beli kebanyakan memang pria, sekarang hampir sama, wanita juga banyak yang suka, " ucapnya.
Untuk bisa menikmati sate kuda, harganya juga relatif tidak mahal. Di depot milik Bayu ini untuk 10 tusuk dijual dengan harga Rp 20 ribu.
(RNU)