Dari Penjahat Menjadi Penjahit

Warga binaan Lapas Kelas II B Lamongan memproduksi masker sendiri. (foto/metrotv) Warga binaan Lapas Kelas II B Lamongan memproduksi masker sendiri. (foto/metrotv)
LAMONGAN. Tubuhnya penuh tato. Tatapan matanya tajam, tanpa senyuman. Pria bernama Totok Sugianto itu terlihat cekatan membolak-balik potongan kain di atas meja jahit.

Totok, begitu dia biasa disapa merupakan narapidana warga binaan Lapas Kelas II B Lamongan, Jawa Timur. Sejak beberapa hari terakhir,  bersama sembilan rekannya sibuk dengan mesin jahit untuk membuat masker.

Maklum, sejak merebaknya wabah virus korona di Indonesia,  harga masker tidak hanya  melonjak namun juga makin langka  di pasaran. Kondisi ini membuat sejumlah warga binaan lapas di Lamongan, Jawa Timur/berkreasi membuat masker sendiri.

Secara bergiliran, 10 napi ini membuat masker berbahan kain. Terdiri dari tiga lapis,  yakni kain spon,  kain tissu dan  kain refil. Dalam sehari,  para napi yang tesandung berbagai kasus kriminal itu mampu memproduksi masker hingga 150 pics.

Sepuluh warga binaan yang trampil menjahit ini dibagi ke dalam dua shif. Untuk sementara masker yang diberi nama Jail ini hanya dibagikan untuk penghuni dan petugas lapas sebagai pencegahan terhadap merebaknya virus korona.  
 

Kasi Pembinaan dan Pendidikan Lapas Kelas IIB Lamongan, Dwi Achmad  mengatakan jika lapas merupakan daerah tertutup sehingga rentan penyebaran virus korona. Untuk itu, pihak lapas mencoba berbagai cara untuk mencegah masuknya covid-19. Salah satunya  membekali napi dan petugas dengan masker.

"Saat ini sulit  mendapatkan masker di toko. Untuk itu kita berdayakan warga binaan untuk membuat masker sendiri, " ujar Dwi Achmad.

Untuk sementara, lanjut Dwi, masker buatan para penghuni lapas ini memang diperuntukan untuk internal. Nampun tidak menutup kemungkinan juga akan dijual untuk masyarakat yang membutuhkan. 

"Sementara kita peruntukan  untuk penghuni lapas dulu. Tapi bisa juga nanti kita jual untuk penghasilan mereka yang menjahit, " ucapnya.  


Salah satu warga binaan lapas, Totok Sugiantoro  mengaku senang dilibatkan dalam pembuatan masker ini. Selain bisa memenuhi kebutuhan dalam lapas, keterampilan menjahit yang didapatkan ini  akan bisa dikembangkan saat keluar dari penjara nanti.

"Senang bisa ikut membantu buat masker untuk mencegah korona.  Nanti kalau keluar dari sini, saya juga akan kerja jadi penjahit saja,  " ujarnya. 


(TOM)