Banting Stir Bisnis Kulit, Eks Fotografer Ini Raih Omset Miliaran Rupiah

Agung Dwi Kurnianto, Pemilik Industri Rumahan Revolt Industry Surabaya Agung Dwi Kurnianto, Pemilik Industri Rumahan Revolt Industry Surabaya

SURABAYA: Mimpi Agung Dwi Kurnianto bersama rekannya menciptakan produk berkualitas dari dalam negeri akhirnya tercapai. Dari pemuda itu, lahir ribuan produk dompet dan aksesoris yang kini telah banyak dijual di pasar lokal maupun internasional.

Agung awalnya adalah seorang fotografer profesional dibidang photo corporate dan produk. Namun, seiring berjalan waktu ia merasa sulit mengembangkan fotografi. Akhirnya, ia banting stir terjun ke dunia bisnis dengan menciptakan produk sepatu kulit. Dia pun mengajak dua rekannya, Stephen F.P dan Gary Aditya untuk memulai usaha.

"Aku ciptain passionku sendiri, dimana aku suka sepatu boot kulit," kata Agung.

Namun, dirinya punya kendala untuk mewujudkan mimpinya. Mulai dari tidak punya alat mesin dan perlu modal banyak. Akhirnya, Agung belajar dari Youtube membuat barang-barang kecil dari bahan kulit hingga bisa berkembang. Agung kemudian membuat workshop dengan menyewa sebuah garasi.

"Jadi dulu temenku punya garasi di rumah yang gak kepake, jadi aku sewa deh, sebulan 250 ribu," ucap Agung.

Pelan-pelan usahanya terbangun sejak 2014. Produk yang dibuat mulai dari dompet, sarung tangan, gelang, gantungan kunci, tas, dan sejumlah aksesoris lain.  Dengan nama brand Revolt Industry, Agung membuat produknya berbeda dengan produk kulit lainnya.

Desain mereka lebih original dan antik.

Seluruh produk buatan anak muda itu terbuat dari kulit sapi asli Indonesia. Setiap produk dibuat dengan tanpa mesin mulai desain, menjahit, sampai finishing.

Saat ini industri rumahan Revolt Industry sudah memiliki 40 pekerja dengan omset ratusan juta hingga milliaran rupiah per bulannya. Hasil penjualannya pun sudah menembus pasar luar negeri. Selain Jepang, produk-produk Revolt Industry juga diekspor ke negara-negara lain seperti Korea Selatan, Singapura, Amerika Serikat bahkan Rusia.

 

Pernah Hampir Bangkrut

Agung pernah punya pengalaman pahit dalam perjalanan bisnisnya. Start up asal Surabaya itu hampir bangkrut saat usianya baru menginjak satu tahun. Workshop Revolt Industry habis terbakar . Mulai dari rancangan desain, pesanan konsumen hingga bahan baku ludes.

"Disitu Revolt sudah hampir putus harapan buat bisnis. Saya saat itu merasa mungkin sudah sampai di sini saja Revolt Industry," cerita Agung.

Musibah itu membuat Revolt Industry harus vakum selama 1 bulan karena terkendala biaya untuk melanjutkan bisnis. Tetapi, Agung tidak patah semangat dan berupaya bangkit membangun Revolt Industry dari awal.

“Kalau sudah passion, mau sudah jadi abu juga pasti bisa bangkit lagi,” tegasnya.


(IDM)