BATU: Balai Penyelamatan Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur kembali melanjutkan ekskavasi Candi Pendem di Kota Batu setelah sempat dihentikan akibat pandemi covid -19.
Hasilnya, selain menemukan sumur patirtan sebagai pusat bangunan candi era Mpu Sendok, tim arkeolog juga mendapatkan sebuah arca batu langka berupa patung dewa siwa berkepala tiga.
Penggalian tahap ke- 4 ini dilakukan di komplek Candi Pendem Junrejo selama sepekan hingga 18 November 2020. Ekskavasi candi dimulai dengan penemuan lima baris batu bata merah berukuran besar dalam dua tumpukan di sisi selatan taman makam keluarga Desa Pendem awal Desember 2019.
Kemudian, ekskavasi tahap ke-3, tim arkeolog berhasil melakukan penggalian seluas 10 kali 8 meter persegi.
Dari luasan tersebut berhasil menampakkan profil pondasi bangunan bata berukuran 7, 5 meter x 7, 5 meter. Bangunan ini tersususun dalam enam lapisan batu bata merah besar .
Masing-masing batu bata berdimensi panjang 35 hingga 36 cm, lebar 25 hingga 26 cm dan tebal 9 hingga 10 cm. Berpusat pada sebuah sumur patirtan berdukuran 2, 1 meter kali 2, 1 meter dengan kedalaman 1,2 meter. Orientasi bangunan candi mengarah pada 103 derajat dari arah utara kompas.
Berdasar catatan masa Hindia Belanda tentang peninggalan purbakala di Indonesia disebutkan ada penampakan sebuah candi bernama Mananjung di lokasi penemuan candi Pendem saat ini berada.
“Keberadaan candi ini terakhir dilaporkan seorang pria asal Belanda bernama Ji Van Sevenhoven pada tahun 1812, tak jauh dari Sungai Brantas, “ ujar Wicaksono Dwi Nugroho, Arkeolog BPCB Jawa Timur.
Selain bangunan candi terbentuk dari tumpukan batu bata merah , tim arkeolog juga menemukan sejumlah koin belanda tahun 1810 – 1825. Yoni sebagai altar perembahyangan , arca nandi serta sebuah arca langka dewa siwa berkepala tiga tak jauh dari lokasi Candi Pendem.
(TOM)