SUMENEP: Masjid Jamik di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, bukan hanya menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia. Namun memiliki arsitektur unik sebagai simbol kemajemukan dan tolerasi budaya umat manusia.
Masjid ini dibangun antara tahun 1799 sampai 1787 Masehi diprakarsai panembahan Somala, penguasa saat itu. Pembangunan masjid ini menggunakan jasa arsitek berdarah Tionghoa, Lauw Piango. Pria ini juga arsitek Keraton Songennep, sebelum akhirnya diubah menjadi Kabupaten Sumenep.
Penguasa saat itu dikenal sangat religius dan memiliki jiwa tolerasi yang tinggi. Maka kemudian bangunan masjid yang menjadi bangunan paling megah saat itu diharuskan memiliki unsur kemajemukan. Sekaligus sebagai bangunan simbol toleransi.
Seperti yang terlihat pada banyak bagian di luar maupun di dalam masjid. Bahkan beberapa detail dan ornamennya menggunakan beberapa unsur kebudayaan yang berbeda- beda. Mulai dari kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa dan Madura pastinya.
Masjid yang memiliki 13 pilar di bangunan utama sangat dijaga keasliannya. Jika ada renovasi, hanya dilakukan di bagian samping untuk menambah kapasitas jemaah, tanpa menyentuh dan mengubah bangunan utama yang banyak mengandung sejarah.
"Nyaman melakukan salat di Masjid Jamik ini. Selain karena tempatnya yang strategis, fasilitasnya lengkap dan megah, " ujar salah seorang warga, Rofiqatul Hasanah.
Sementara Ketua Remaja Masjid, Fauzi Alqodiri mangatakan masjid ini dibangun karena dulunya Masjid Lajuh atau Masjid Keraton tidak dapat menampung jemaah.
"Sehingga dibangunlah masjid baru yang lebih megah, yaitu Masjid Jamik yang tampak sekarang ini, " ujarnya.
Terlihat dari beberapa dokumentasi foto lama, bangunan masjid masih tetap sama. Hanya berubah di bagian catnya saja.
Sebagai ikon dan bangunan paling terkenal di Kabupaten Sumenep, menjadikan Masjid jamik tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan meski di masa pandemi, pengunjung dari luar kota mencapai sekitar 3 bus.
"Jika sebelum pandemi pengunjung bahkan mencapai 10 hingga 20 bis per harinya, " ujarnya.
(TOM)