Korban Gempa Pulau Bawean di Tenda Pengungsian Mengaku Kesulitan Logistik

Masyarakat korban gempa di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur masih tidur di halaman depan rumah karena khawatir guncangan kembali terjadi. ANTARA/HO-Puskris Kesehatan. Masyarakat korban gempa di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur masih tidur di halaman depan rumah karena khawatir guncangan kembali terjadi. ANTARA/HO-Puskris Kesehatan.

Surabaya: Korban gempa di Pulau Bawean, Jawa Timur mengungsi di beberapa posko merasa kesulitan mendapatkan makanan siap saji karena tidak tersedianya dapur umum di setiap desa. Dapur umum hanya didirikan di wilayah kecamatan, sedangkan jaraknya dari desa ke kecamatan Bawean cukup jauh. 

"Jangankan ke kecamatan, jarak dari desa ke desa aja berjauhan. Kalau pemerintah serius peduli warga terdampak gempa, harusnya dapur umum didirikan di setiap desa, bukan hanya di wilayah kecamatan," jelas salah satu korban gempa di Pulau Bawean, Ahmad Muzayyin, dikutip dari Medcom.id pada Kamis, 28 Maret 2024. 

Ahmad mengatakan bahwa saat ini korban gempa membutuhkan logistik, terutama makanan siap saji karena mereka kesulitan memasak bahan baku dan tidak tersedia dapur umum di dekat desa. 

"Banyak sekali kebutuhan kita. Khususnya soal logistik. Para pengungsi disini sangat membutuhkan makanan yang siap saji,” tutur Ahmad

Ahmad mengungkapkan bahwa pemerintah mendirikan dapur hanya di kantor kecamatan saja. Sementara itu, di desa tidak didirikan dapur umum padahal warga sangat membutuhkan untuk menyiapkan buka puasa dan sahur.  

 "Padahal makan siap saji sangat dibutuhkan masyarakat terdampak gempa, tapi di desa kami tak ada dapur umum," papar Ahmad. 

Ahmad menegaskan bahwa sampai saat ini warga masih takut untuk pulang ke rumahnya karena khawatir adanya gempa susulan.

Ahmad menjelaskan bahwa bantuan logistik tidak tersebar rata di desanya sehingga sebagian warga belum mendapatkan bantuan sepenuhnya. 

"Misalnya bantuan selimut, tenda, obat-obatan. Bantuan yang kita dapat dari pemerintah berupa beras 1 Kg, mie instan. Ada juga yang dapat selimut, tapi sebagian besar gak dapat," terang Ahmad. 


(SUR)

Berita Terkait