Jakarta: Mantan Panglima TNI Jendral TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dianggap masih bisa diberdayakan kembali jika memang hal itu diinginkan oleh Presiden Jokowi, karena ini merupakan hak prerogatif dari seorang presiden. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS Jazuli Juwaini.
“Meskipun usianya sudah finish, selesai menjabat disuatu posisi, itu kan juga bisa diberdayakan pada posisi yang lain kalau orang tersebut tidak dianggap masalah, atau lebih enaknya kalau memang diinginkan presiden. Lagi-lagi presiden yang memiliki hak prerogatif,” jelas Jazuli dalam diskusi virtual Crosscheck Medcom.id yang bertajuk “Mantan Panglima, Maumu Apa?“ pada Minggu, 27 September 2020.
Jazuli juga menanggapi pernyataan Gatot yang sempat menjadi perbincangan publik terkait pencabutan posisinya dari Panglima TNI. Menurut Jazuli, setiap kata yang diucapkan oleh Gatot seharusnya memiliki data agar tidak terkesan berbau drama.
“Gatot sebagai orang yang telah menduduki posisi tertinggi di Tentara Nasional Indonesia (TNI), tentu setiap ucapannya itu harusnya punya data ya,” tutur Jazuli.
Selain itu, Jazuli mengatakan, yang tahu alasan dibalik pencopotan Gatot pastinya adalah presiden. Sebab, pengangkatan dan pemberhentian Panglima TNI adalah hak prerogatif dari seorang presiden.
“Mau pensiun atau sebelum pensiun sudah diganti itu hak prerogatifnya presiden, itu yang pertama. Siapaun, kita hanya bisa menduga-duga karena yang paling tahu dan neken itu Pak Presiden,” ucap Jazuli.
Seperti diketahui, pernyataan dari Gatot Nurmantyo dalam channel Youtube Hersubeno Point sempat menjadi perbincangan publik. Hal ini terkait pencabutan dirinya pada 2017 lalu, menurutnya, dikarenakan ia memerintahkan jajarannya untuk meonton film G30S/PKI.
“Pada saat saya menjadi Panglima TNI, saya melihat itu semuanya, maka saya perintahkan jajaran saya untuk menonton film G30S/PKI. Pada saat itu, saya punya sahabat dari salah satu partai, saya sebut saja partai PDI, menyampaikan, ‘Pak Gatot, hentikan itu. Kalau tidak, pasti Pak Gatot akan diganti,” ujar Gatot.
“Saya bilang, terima kasih, tapi disitu saya gas karena ini adalah benar-benar berbahaya. Dan memang benar-benar saya diganti,” tambah Gatot.
(IDM)