Belasan Dalang Cilik Adu Kepiawaian Mainkan Wayang Kulit

Fikri Deva Saputra salah satu dalang cilik yang berbakat padahal baru kelas 2 SD. Fikri Deva Saputra salah satu dalang cilik yang berbakat padahal baru kelas 2 SD.
TULUNGAGUNG : Fikri Deva Saputra nampak luwes memainkan wayang kulit. Bocah kelas dua SD Negeri 1 Bungur, Karangrejo  ini begitu hafal setiap lakon wayang dimainkan. Meski demikian, ia sempat kesulitan lantaran jarak tempat duduk dan penopang wayang terlalu tinggi. Ia pun terpaksa berdiri saat menjadi dalang cilik.

Fikri merupakan satu dari 18 dalang cilik yang mengikuti gelaran festival dalang pelajar tingkat SD hingga SMA. Kegiatan itu digelar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispora) Tulungagung. Dalam gelaran ini menampilkan para dalang cilik tingkat SD.

Meskipun masih berusia anak-anak,namun mereka piawai memainkan sejumlah tokoh wayang. Diantaranya dialog antara tokoh wayang satu dengan yang lainnya dalam bahasa jawa kawi. Tak hanya itu mereka terlihat luwes saat terjadi pertarungan antara tokoh wayang. Sabetannya pas. Mereka tidak kalah dengan dalang profesional.

Dalam lomba ini, setiap dalang cilik harus menuntaskan 1 lakon dari 6 lakon yang dilombakan dengan durasi maksimal 45 menit. Dalang cilik ini juga diiringi pengrawit dan sinden yang juga masih status pelajar.

Merekapun nampak piawai berolah vokal saat menbawakan gending-gending dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Bahkan dapat menyelaraskan gamelan, sehingga nampak rancak dalam mengiringi adegan demi adegan wayang kulit.    

Fikri mengatakan sejak kecil ia memang sudah banyak dikenalkan dengan dunia perwayangan. Sejak itu ia mulai belajar dari dalang-dalang terkenal dengan didampingi orang tuanya. Dalam gelaran ini, ia hanya menyiapkan selama seminggu.

"Tadimenampilkan lakon sang Bhima yang menceritakan perjalanan Bima menemui sang Dewa Ruci," ungkap dalang cilik uang mengidolakan kondang ki Seno Nugroho ini.  

Sementara itu juri festival dalang pelajar, ki Budi Plandang mengatakan dalam festival ini yang dinilai antara lain,antawacana atau dialog antar wayang, sabetan atau gerakan wayang, penguasaan gending dan dhodhogan atau keprakan. Pihaknya mengapreasiasi gelaran festival ini.

"Di saat banyak anak muda yang sudah dominan dengan gadget, masih ada anak muda yang memiliki talenta untuk melestarikan budaya," ungkapnya.

Senada yang disampaikan Kepala UPT TBKS Dispora Tulungagung Rokhani. Dia juga menyebutkan gelaran festival dalang antar pelajar SD hingga SMA ini  untuk mencari bibit-bibit dalang wayang kulit potensial di Tulungagung.

"Selain wujud pelestarian budaya, kegitan ini juga untuk mencari bibit-bibit dalang untuk diikutsertakan diperlombaan tingkat provinsi maupun nasional," kata Rokhani.

Kesenian wayang kulit merupakan salah satu kesenian tradisional yang masih bertahan hingga saat ini. Sehingga keberadaannya masih eksis di tengah-tengah masyarakat. Namun untuk melestarikannya, sangat diperlukan generasi muda yang cinta terhadap wayang kulit dan mampu memainkannya. 


(ADI)