Melesat, Gula Jawa Rempah Buatan Pasturi Kediri Tembus Arab Saudi

Guncono dan istrinya Sri Wahyuni, pembuat gula jawa rempah kebanjiran pesanan hingga luar negeri. Guncono dan istrinya Sri Wahyuni, pembuat gula jawa rempah kebanjiran pesanan hingga luar negeri.

KEDIRI: Menebarnya virus korona di berbagai penjuru dunia membawa ‘berkah’ bagi pasangan suami istri, Guncono dan Sri Wahyuni. Perajin gula rempah asal Kediri ini mengaku kebanjiran pesanan.

Menurut cerita Sri Wahyuni, sejak sepekan ini permintaan gula jawa rempah buatannya naik hingga 10 kali lipat dari hari-hari biasanya. Tidak hanya dalam negeri, namun juga menembus hingga Arab Saudi.

“Sejak ramai korona sepekan lalu, pesanan gula jawa rempah ini naik drastis. Naik sekitar sepuluh kali lipat dari biasanya, “ ujar pembuat gula jawa rempah asal Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini.   

Saat ini, Sri bisa mejual 23 kilogram  gula jawa rempah dalam sehari. Padahal biasanya, dalam seminggu paling banyak terjual 15 kg. Untuk harga, gula jawa rempah ini dibandrol Rp 17 ribu per kotak berisi delapan biji. Sedangkan perkilonya dijual Rp 40 ribu. 

Tingginya permintaan ini diyakini karena kabar jika rempah-rempah bisa menjadi penangkal serangan virus korona.  Gula jawa rempah buatan Sri Wahyuni dan suaminya ini memang mengandung delapan macam rempah.

Mulai dari jahe, kunyit, kayu manis, serai, temulawak, cengkeh, daun pandan hingga  kapulagi. 
Dalam pembuatannya, semua bahan rempah diparut dan diambil sarinya. Setelah itu direbus hingga mendidih.

Setelah itu baru dimasukkan dalam gula jawa hingga mencair. Terakhir, dicetak di bidang kayu yang berlubang seperti bentuk gula jawa yang beredar di pasar.


"Selain dijual di sekitar Kediri, pesanan juga datang dari Surabaya, Sidoarjo, Banten bahkan hingga keluar jawa seperti Batam. Sekarang juga ada pesanan dari Arab Saudi, " ujar Sri.  


Meski pesanan gula jawa rempahnya meroket, namun Sri Wahyuni dan suaminya mulai resah. Sebab,  bahan rempah-rempah yang dibutuhkan mulai mahal dan sulit dicari di pasaran. 

"Sekarang masalahnya bahan sulit didapatkan, kalaupun ada  harganya bisa naik hingga dua kali lipat, " keluhnya. 
 


(RNU)