SURABAYA: Berbagai upaya disiapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk mengantisipasi datangnya bencana di Indonesia. Termasuk bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengatakan citra Indonesia sempat buruk di mata Internasional terkait Karahutla pada 2015.
Namun setelah tiga tahun, pemerintah berhasil mengatasi kebakaran hutan, meski harus bersusah payah. Bahkan sempat bersitigang dengan nagera tetangga, Singapura.
"Setengah mati kita mengatasinya. Kita betul-betul rapi ngeberesinya. Dan itu reda ketika tahun 2017. Sekarang tinggal 165 ribu hektare yang terbakar," ujar Siti Nurbaya dalam diskusi virtual Denpasar 12, Rabu, 21 Oktober 2020.
Dijelaskan Siti, pembahasan langkah pencegahan karahutna membutuhkan waktu yang panjang. Mulai dari November 2014 hingga Mei-Juni 2015.
"Berantemnya lama. Langkah pencegahan bisa diterapkan dengan maksimal pada 2016. Pemerintah mulai fokus menjaga kelestarian dan mengelola lahan gambut, " ujarnya.
Saat ini, lanjut Siti Nurbaya, KLHK juga melibatkan masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya kembali karhutla. Peran masyarakat diperlukan untuk mengawasi potensi pembakaran yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab.
"Jadi pemain-pemain atau tukang bakarnya sudah mulai berhenti dan kita ajak (menjaga hutan), ayo kita patroli," ujar dia.
Selain kebakaran hutan, KLHK juga sudah melakukan antisipasi bencana lainnya, seperti banjir dan longsor, di musim penghujanan. Salah satunya sudah membangun Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH).
Penampungan air hujan ini bisa dimanfatkan untuk mengairi lahan pertanian saat musim kemarau datang. Selain itu juga menciptkan hutan-hutan magrove sebagai antisipasi bencana tsunami.
"Magrove ini ternyata juga berdampak bagi para nelayan. Mereka tidak perlu jauh ke tengah laut untuk mencari ikan, " ucapnya.
(TOM)