Masjid Baitussholihin: Sepi Akibat Semburan Lapindo, Masih Simpan Jam Matahari

Takmir masjid menunjukkan cara kerja jam matahari (metrotv) Takmir masjid menunjukkan cara kerja jam matahari (metrotv)

SIDOARJO: Masjid Baitussholihin di Desa Kedung Cangkring, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, memang tidak seramai dulu. Namun di masjid tua ini masih tersimpan banyak kenangan, termasuk Jam Matahari.

Sudah bertahun-tahun masjid yang berlokasi di perbatasan tanggul penahan lumpur lapindo ini sepi. Sebab, semua warga di sekitar masjid pindah lantaran semburan lumpur lapindo.
 
"Masjid Baitussholihin masih digunakan warga pendatang yang melintas untuk menjalankan salat. Sementara warga desa sekitar masjid ini sudah pindah semua akibat semburan lumpur lapindo, " ujar Mudzakir, Takmir Masjid Baitussholihin saat ditemui, Minggu 18 April 2021.
   
Usia masjid ini cukup tua,  dibangun pada 1969. Bangunan masjid serta bedug dan juga tempat wudhu terlihat masih sangat tradisional.

Bahkan di masjid ini masih ada jam matahari yang dulu digunakan sebagai penentu salat Dhuhur dan Ashar. Waktu salat Dhuhur dan Ashar bisa diketahui lewat kemiringan bayangan cahaya  dari besi yang ada di jam matahari ini.

Namun seiring kemajuan jaman,  jam matahari ini tentu saja sudah tidak digunakan lagi. Sebab, penunjuk waktu saat ini bisa dengan mudah diketahui.  Seperti jam dinding, jam tangan hingga telepon genggam.

"Meskipun sudah tidak difungsikan,  jam matahari masih ada dan bisa dipakai," ucapnya.

 


(TOM)