SURABAYA: Titik Winarti bukan pelaku usaha kecil menengah (UKM) biasa. Usaha kerajinan tangan 'Tiara Handicraft' yang dirintis sejak tahun 1995 sudah menembus pasar dunia. Hebatnya lagi, para pegawainya adalah kaum difabel.
Cerita merekut pegawai difabel, berawal saar permintaan pasar terus bertambah pada 1997. Singkat cerita, Titik harus merekrut pegawai baru. Siapa sangka, pengusaha asal Surabaya itu justru merekut difabel.
"Tapi saya jujur, awalnya juga merasa ragu, orang ini bisa atau enggak gitu lho Mas," kenang Titik kepada jurnalis Media Group News Kamis 15 April 2021.
Hingga suatu saat, Titik menerima pesanan gaun dengan hiasan payet yang harus selesai dalam waktu satu minggu. Titik kemudian memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang difabel yang hanya memiliki satu tangan. Hasilnya, pekerjaan tersebut bisa terselesaikan hanya dalam waktu lima hari.
Berbekal rasa penasaran, Titik kemudian meminta pegawainya tersebut untuk melakukan pekerjaan lain di bawah pengawasannya langsung. Fakta lain terungkap, yang membuat hati Titik bergetar.
"Jadi, saat anak perempuan bertangan satu itu bekerja Mas, dia ternyata sambil melantunkan sholawat. Saat itu saya merasa disadarkan oleh Allah untuk tidak meremehkan kaum difabel," imbuh Titik.
Sejak saat itulah, produksi kerajinan tangan di Tiara Handicraft, seluruhnya dilakukan kaum difabel. Menurut Titik, kaum difabel juga memiliki hak yang sama dengan orang lain untuk mendapatkan pekerjaan dan hidup layak.
Selama memberdayakan difabel mulai tahun 1997 hingga saat ini, sudah ada total 820 difabel yang pernah bekerja di Tiara handicraft. Selama bekerja di tempatnya, Titik menjamin kehidupan para difabel tersebut. Mulai dari tempat untuk tidur, makan, hingga upah yang layak.
"Dan semua yang keluar dari sini mas, rata-rata mereka sudah memiliki kemampuan yang cukup dan memilih untuk bikin usaha sendiri di kampung halamannya," pungkas Titik.
(TOM)