Berbukalah dengan yang Manis, Benar Nggak Sih...

Ilustrasi. (ist) Ilustrasi. (ist)

CLICKS: “Berbukalah dengan yang manis,” Perkataan itu kerap kita dengar di bulan puasa ramadan seperti sekarang. Memang, saat berbuka puasa mengonsumsi makanan atau minuman manis bisa sangat menyegarkan.

Namun, saat berbuka puasa dengan makanan manis tetap ada yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan.

“Saat berbuka puasa, lalu mengonsumsi makanan atau minuman manis dengan kandungan gula yang tinggi harus berhati-hati. Bukan kenyang, tapi malah bisa membuat kita craving makanan lain,” ujar dr. Reisa Broto Asmoro dalam acara Webinar Hari Kartini “Tips Cantik, Bugar, dan Sehat di Era New Normal Pandemi Covid-19” pada Sabtu, 24 April 2021.

Menurutnya, jika kita craving terhadap makanan lain maka akan membuat makanan pokok atau makanan utamanya tidak mendapatkan porsi gizi yang seimbang karena terlalu kenyang dengan makanan camilan itu.

“Berbuka dengan yang manis harus disertai dengan pengaturan makan. Jangan pada saat berbuka puasa langsung jor-joran makannya. Jangan langsung kenyang, itu tidak boleh. Begitu buka puasa, sebaiknya makan sedikit dulu setelah itu solat maghrib barulah kemudian makan dalam porsi yang besar,” saran dr. Reisa.

Pada saat berbuka puasa, dr. Reisa juga mengatakan bahwa itu bukanlah untuk menggantikan makan siang. “Makan yang harusnya porsinya seperti makan siang itu pada saat sahur. Itu karena makan sahur adalah modal kita untuk energi selama satu hari. Jadi setelah berbuka puasa, jangan semua makanan yang ada di meja makan itu dimakan,” jelasnya.

“Jadi kalau bisa karbohidratnya diatur. Saran saya, pilih karbohidrat kompleks karena itu mengandung lebih banyak serat, nutrisi, dan butuh waktu lebih lama untuk dicerna. Jadi kita kenyang lebih lama. karbohidrat kompleks juga bisa mengontrol kadar gula agar tetap stabil. Jadi kita tidak lemas, dan bisa menstimulus serotonin sehingga bisa mengontrol emosi dan nafsu makan sepanjang puasa” tambah dr. Reisa.

Selain itu, menurut dr. Reisa asupan protein yang cukup juga penting karena itu merupakan kunci agar tahan lama berpuasa.
“Kadang-kadang kalau protein orang mengingatnya daging, susu, telur. Padahal ada juga tahu, tempe, dan nabati lain yang bisa dimanfaatkan,” tutupnya.


(TOM)