Peternak Magetan Bagikan Resep Sembuhkan PMK

Ilustrasi / Medcom.id Ilustrasi / Medcom.id

MAGETAN : Semua peternak sapi di Desa Janggan, Poncol, Magetan, merasakan dampak dari penyakit mulut dan kuku (PMK). Tak terkecuali, Gondo Dwi Sukatni. Namun, dia tak ingin terlarut dalam kesedihan karena belum dapat penanganan dari dinas terkait. Dia mengusahakan untuk memberikan pengobatan mandiri bagi sebanyak 35 ekor sapinya yang terkena PMK.

Dia membagikan kiatnya dalam melakukan pengobatan luar untuk mulut dan kuku sapi. Ada beberapa langkah dalam memberikan desinfektan dan antiseptic. Pertama, dia memberikan semprotan desinfektan ke seluruh sapi dan utamanya bagian kaki. Kemudian memberikan antiseptic untuk mulut dan kuku sapi hingga mengendalikan bau menyengat dari kandang jika sapi terjangkit virus.

“Untuk desinfektan, kami gunakan formalin 90 persen sebanyak 500 mililiter, dicampur alkohol 70 persen 50 mililiter, kemudian diberi air biasa hingga 16 liter. Itu disemprotkan ke kandang. Kira-kira cukup untuk kandang dengan kapasitas 10 sapi lebih,” kata Gondo, Jumat 24 Juni 2022.

Usai kandang dan kaki sapi disemprot cairan desinfektan, satu per satu kaki sapi yang terjangkit PMK dan terdapat luka dibersihkan dengan rivanol. Jika sudah bersih, baru diolesi menggunakan larutan iodin. Tak hanya dioleskan, ada juga iodin yang harus disemprotkan agar menjangkau luka bagian dalam kuku dengan maksimal.

Baca juga : 8.000 Dosis Vaksin PMK dari Perancis Tiba di Ponorogo

Larutan iodin itu juga bisa digunakan untuk mulut sapi dan lidahnya. Caranya dengan mengoleskannya ke cuping hidung dan membiarkan sapi menjilatinya agar lidahnya bisa turut terobati. Namun, untuk hidung sapi yang hidungnya ditali atau dikeluh, harus dilepas dulu keluhannya dan sementara dipasang brungkusan biasa agar bisa disembuhkan luka bagian mulutnya.

“Larutan iodin atau betadin ini manjur untuk perawatan luka. Jika pakai empon-empon agak lambat sembuhnya. Jadi kami pakai iodin,” kata Gondo.

Sementara, untuk menghilangkan bau anyir di kandang, dia tak memberikan campuran iodin dengan pengendali ammonia. Dia menyebut itu juga bisa digunakan untuk meminimalisir penyebaran virus.

Gondo mengakui tak semua sapinya kena PMK. Pun, mayoritas sapi yang dia rawat adalah sapi yang dia beli dari rekan atau saudara yang tidak sanggup mengobati sapi sakit.

“Kami tidak cari untungnya, ya. Tapi lebih ke rasa sosialnya. Kasihan kalau sapi dijual murah. Saya beli dengan harga wajar dan saya obati agar tidak mati. Syukur, dari sapi-sapi yang saya rawat ini sudah sembuh beberapa. Tidak sampai lepas kuku maupun mati. Tinggal dua saja yang masih pemulihan,” kata Gondo.

Dari pengalamannya mengurus sapi yang sakit selama kurang lebih sebulan, dari sapi-sapi yang terjangkit dengan perawatan luka dan menjaga kebersihan kandang maka dalam waktu sembilan hari sudah membaik meski tetap harus diperhatikan lukanya sampai benar-benar sembuh dan kondisinya membaik.

“Tingkat kesembuhan sapi yang kecil itu tinggi. Kalau yang bobot 600 kilogram ke atas memang agak susah. Yang penting deteksi dininya dulu sebelum luka di mulut dan kukunya belum parah,” katanya.


(ADI)

Berita Terkait