Menghapus Stigma Kampung Idiot Lewat Batik Ciprat

Proses pembuatan batik ciprat di Desa Karangpatihan, Ponorogo. (metrotv) Proses pembuatan batik ciprat di Desa Karangpatihan, Ponorogo. (metrotv)

PONOROGO: Sempat dicap sebagai "kampung idiot", kini Desa Karangpatihan, Ponorogo, Jawa Timur bisa berbangga. Lewat batik ciprta, warga desa penyandang disabilitas membuktikan diri bisa berkarya dan hidup mandiri.

Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi mengatakan kegiatan membatik yang dilakukan para warga penyandang tuna grahita sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

"Ini upaya pemerintah desa dalam memberdayakan kaum disabilitas agar produktif dan tidak bergantung pada orang lain. Selain itu juga untuk menghilangkan stigma kampung idiot yang selama ini dikenal masyarakat sekitar," kenangnya.

Setiap hari, lanjut Eko,ada sebanyak 86 warga penyandang disabilitas yang terus dibina dengan berbagai kegiatan positif di rumah harapan yang disediakan pemerintah desa. Salah satunya kegiatan membantik.  

Batik karya tuna grahita ini bukan batik tulis ataupun batik modern seperti yang banyak ditemukan dipasaran. Namun mereka membuat batik ciprat khas Ponorogo.  

"Salah satunya membuat kain batik ini, batik ciprat sengaja dipilih karena disesuaikan dengan kemampuan mereka yang memiliki keterbatasan, " ujarnya.

Proses membuat kain batik ciprat tidak mudah. Tidak hanya butuh kesabaran tapi juga harus memiliki seni tinggi. Mulai dari mencipratkan pewarna pada kain, detil proses, menjemur kain, merebus hingga kain jadi dijemur kembali.

Hasilnya tak sia-sia, batik ciprat karya tuna grahita warga Karangpatihan diminati pasar. Salah satu kelebihannya,  memiliko corak unik serta tidak mudah ditemui dipasaran. Untuk harga, satu potong kain batik ciprat dijual dengan harga berkisar antara Rp 150 hingga Rp 200 ribu.  

"Tidak hanya diminati warga Ponorogo saja, namun pesanan juga banyak datang dari berbagai kota di Indonesia, " ujarnya.  

Diakui Eko, batik ciprat karya tuna grahita ini sekarang menjadi kebanggan  pemerintah Desa Karangpatihan. Tidak hanya memupus stigma "kampung idiot", namun juga meningkatkan  kesejahteraan warganya.

"Kami sangat bangga. Selain kesejahteraan masyarakat penyandang disabilitas meningkat,  mereka tidak lagi terlalu bergantung pada bantuan orang lain, " tandasnya.

 


(TOM)