BOJONEGORO: Pasca ditutupnya Jembatan Glendeng, warga Tuban dan Bojonegoro terpaksa menggunakan perahu untuk menyebrangi sungai Bengawan Solo. Transportasi perahu dinilai lebih efisien dan cepat.
Sejak dua hari ini, lokasi jasa penyeberangan perahu di bawah Jembatan Glendeng, penghubung antara Kabupaten Bojonegoro dengan Kabupaten Tuban, tepatnya di Desa Kalirejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro tampak ramai.
Jasa penyeberangan perahu kembali beroperasi pasca jembatan Glendeng ditutup total dan tidak boleh dilalui kendaraan, baik roda 2 maupun roda 4.
BACA: Truk Kontainer Tabrak Pipa Gas di Sidoarjo Akhirnya Bisa Dievakuasi
Jasa penyeberangan perahu didominasi kendaraan roda 2 yang akan menyeberang dari Bojonegoro ke Tuban atau sebaliknya. Dalam sehari, jasa penyeberangan tersebut bisa menyeberangkan lebih 200 kendaraan roda 2. Setiap sekali angkut, maksimal hanya 10 sepeda motor yang bisa disebrangkan.
Gatot penyedia jasa penyeberangan perahu mengatakan, perahu yang digunakan untuk menyeberangkan sepeda motor ada dua. Masing masing beroperasi pada pukul 05.00 WIB pagi sampai jam 13. 00 WIB.
Setelah itu, perahu kedua beroperasi pada jam 13.00 sampai 21.00 WIB. Untuk tarif penyebrangan di kenai biaya Rp 2 ribu sekali menyebrang.
"Setiap shif bisa dapat Rp 200 ribu. " ujar Gatot.
Gatot mengaku hanya menyediakan perahu saat Jembatan Glendeng ditutup seperti saat ini. Sementara jika jembatan bisa dilalui kendaraan seperti sebelumnya maka ia akan kembali bertani.
Bagi masyarakat, ditutupnya jembatan Glendeng berdampak pada aktivitas sehari-hari. Sebab, sebelumnya lebih mudah dan cepat jika ingin ke Bojonegoro dari Tuban atau sebaliknya.
"Sejak jembatan di tutup total, terpaksa memilih menggunakan jasa penyeberangan menggunakan perahu karena lebih cepat dan efisien. Semoga jembatan cepat selesai, " ujar Sutaji, pengguna jasa penyeberangan
(TOM)