Menpora Ungkap Alasan Sebut BWF Tidak Profesional dan Diskriminatif

Menpora Zainudin Amali Menpora Zainudin Amali

JAKARTA: Menteri Pemuda Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali akhirnya mengungkap terang-terangan alasan menyebut BWF sebagai federasi olahraga bulutangkis dunia yang tidak profesional, tidak transparan dan diskriminatif.

Ucapan pedas yang akhirnya membuat Presiden BWF Poul-Erik Hoyer berkirim surat resmi permohonan maaf kepada Presiden Indonesia, Joko Widodo itu dilontarkan Menpora setelah BWF melempar kesalahan kepada pemerintah Inggris atas insiden 'pengusiran' atlet Indonesia di ajang All England.  

"BMW malah meyalahkan Satgas Covid-19 nya Inggris. Itulah kenapa saya langsung melontarkan pernyatan BWF tidak profesional, tidak transparan dan diskrimintif. Dalam bahasa diplomasi, ini sudah high level (paling keras, " ujarnya.

Seharusnya, lanjut Zainudin Amali, BMW sebagai organisasi olahraga dunia sudah mengantispasi aturan yang diterapkan di London, Inggris selama pandemi covid-19.

"Semua keputusan BWF pasti tahu. Jangan salahkan panitia penyelanggara. Karena semua keputusan BWF pasti tahu. Mereka (BWF) yang tidak melakukan antisipasi. Baru setelah saya keluarkan ucapan itu, mereka kirim surat permintaan maaf, " ucapnya.

Selain itu, lanjut Menpora, dari cerita para atlet, mereka juga mendapatkan perlakukan diskriminatif.  Salah satunya, karena ada tiga atlet yang positif covid-19 dari tiga negara masih dijinkan bermain setelah melakukan tes swab mandiri.

"Dari cerita anak-anak, ada tiga atlet luar yang positif. Kemudian tes swab sendiri, dalam beberapa jam hasilnya negatif. Sementara pemain Indonesia langsung diusir dari arena pertandingan, " ucapnya.

Padahal, lanjut Menpora, atlet Indoenesia tidak dalam posisi positif covid-19 secara langsung. Alasannya hanya karena satu pesawat dengan orang yang yang positif covid-19.

"Kalau mau fair, semuanya peserta harus tes swab lagi waktu itu, bukan Indonesia yang di suruh keluar. Karena mereka sudah saling berinteraksi. Atlet Turki yang satu pesawat dengan kita juga masih boleh main. Baru mundur setelah ada reaksi keras dari nitzen Indonesia, " ucapnya.

Alasan lain yang membuat Menpora mengeluarkan pernyataan keras lantaran pemain Indonesia di isolasi dalam kamar tanpa ada suplai makanan dari pihak BWF maupun panitia penyelanggara.

"Atlet kita dilarang pakai lift, tidak boleh pakai shutter bus. Tidak boleh keluar dari kamar. Suplai makanan dari duta besar Indonesia setelah ada arahan Kemenlu, kita sendiri yang berusaha memulangkan anak-anak, " tandasnya.    
 


(TOM)