SURABAYA: Sungai Tambak Wedi di Kecamatan Kenjeran Surabaya, Jawa Timur mengeluarkan limbah busa putih tebal. Hasil penelitian, sungai telah tercemar limbah rumah tungga berupa diterjen dengan kandungan phospat sebesar 45 PPM.
Penelitian ini dilakukan sejumlah aktivis lingkungan di Surabaya. Yaitu mahasiswa pecinta alam Universitas Muhammadiyah Surabaya (Mupalas) bersama Yayasan Ecological Observation and Westlands Conversation (Ecoton).
Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel air dari tiga lokasi di muara sungai Tambak Wedi dengan menggunakan alat TDS (total dissolved solid) atau kandungan ion terlarut dalam air, pengukur phospat, amonium, PH meter, clorine dan plankton net untuk mengambil mikroplastik.
"Hasil penelitian menyimpulkan bahwa air sungai Tambak Wedi telah tercemar deterjen," ujar Faisol Mardiono, aktivis lingkungan dari Mupalas, Sabtu 20 Maret 2021.
Dijelaskan Faisol, kandungan phospat sungai Tambak Wedi sebesar 45 PPM. Sedangkan TDS mencapai 4.015 hingga 5012 PPM. SPadahal untuk baku mutu air sungai parameter TD harus lebih kecil 1500 PPM. Sedangkan kadar phospat tidak lebih dari 5 PPM.
"Phospat dberbahaya dan akan menghambat penguraian bahan organik di perairan. Efeknya dapat menyebabkan eutrofikasi atau penyuburan perairan. Sehingga terjadi ledakan populasi alga yang akan menurunkan oksigen terlarut, " bebernya.
Sementara sejumlah nelayan setempat mengaku sungai Tambak Wedi mengeluarkan limbah busa putih tebal ini sudah terjadi sejak puluhan tahun. Limbah busa putih tersebut berasal dari tumpukan sampah yang disaring di rumah pompa.
Namun nelayan sekitar justru tidak merasa terganggu dengan adanya limbah busa putih tebal itu. Alasannya tidak berdampak pada tangkapan ikan mereka di pesisir pantai maupun sekitar laut.
"Sudah puluhan tahun sungai berbusa, namun tidak pengaruh ke tangkapan ikan, " ujar Suparman, salah satu nelayan Tambak Wedi.
(TOM)