NGAWI :Sautan suara menggelegar terdengar dari sudut hutan jati di Desa Tempuran, Paron, Ngawi. Suara itu mengundang masyarakat untuk berkumpul. Suara ledakan tersebut berasal dari meriam bambu yang diamainkan belasan anak-anak di setempat menjelang berbuka.
Meriam bambu untuk mengisi waktu ngabuburit memang sudah menjadi kegiatan rutin warga setempat. Bahkan sudah dilakukan secara turun menurun.
Meriam bambu dengan panjang sekitar satu meter tersebut dibuat dari bambu ori yang memiliki kekuatan lebih dibanding bambu lainnya. Selain itu suara meriam bambu ori diklaim lebih kencang.
Untuk memainkan meriam bambu, mereka mencari lokasi di tempat yang jauh dari perumahan warga. Dengan berjalan kaki mereka membawa meriam bambu di atas pundak, mereka menunuju hutan jati di sudut desa.
Sesampai di arena peperangan, mereka membagi menjadi dua kelompok, dari dua arah yang berlawanan. Selanjutnya, amunisi meriam dari karbit pun disiapkan. Setelah semuanya siap, perang pun dimulai.
Tak lama kemudian, suara menggelegar dari ujung lubang meriam bambu bergantian layaknya meriam sungguhan. Semakin kencang suara tembakan, semakin cerialah mereka, merasa puas.
Sebaliknya, jika suara yang keluar sangat lemah atau macet mereka akan menertawakannya. Itulah yang justru menjadikan suasana begitu meriah.
"Karena sudah biasa dan kegiatan turu menurun, sehabis masak biasanya saya sempatkan untuk melihat mereka bermain. Senang rasanya lihat semyum mereka di tengah pandemi seperti ini," ungkap salah seorang warga Elis Fajar Saputri.
Meski asyik bermain, mereka tak melupakan imbuan pemerintah terkait physical distancing dan memakai masker dan juga menjaga jarak. Anak-anak ini, berharap dengan ledakan bambu meriam ini bisa menjadi simbol perlawanan untuk mengusir korona yang saat ini melanda.
(ADI)