Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid menilai perkataan Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo terkait pemberhentiannya pada 2017 lalu karena ajakan nonton bareng film G30S/PKI adalah bermuatan politis.
“Artinya pernyataan Pak Gatot ini adalah pernyataan politis,” kata Jazilul dalam diskusi virtual Crosscheck Medcom.id yang bertajuk “Mantan Panglima, Maumu Apa?“ pada Minggu, 27 September 2020.
Jazilul menjelaskan bahwa pernyataan politis memilki banyak makna dan tafsiran, tergantung dari sisi mana orang akan melihat.
Ia memaparkan, dari sisi politis yang pro-pemerintah pastinya akan mewajari pencabutan Gatot karena dinilai normal, jadi tidak ada unsur pro-PKI disana. Lalu, di sisi lain, ada juga dugaan pemikiran kalau Gatot sedang bermanuver untuk menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024 yang akan datang.
“Inilah yang menjadi polemik, yang kemudian apa yang disampaikan oleh Pak Gatot ini menyita perhatian publik. Dan kemudian, tibalah duga-dugaan, yang satu menduga bahwa Pak Gatot ini sedang bermain politik karena ingin menyalonkan presiden. Itu semua tafsir,” ucap Jazilul.
Sambungnya, ia berpesan, agar peristiwa G30S/PKI jangan sampai terulang kembali atas nama aliran manapun, termasuk komunisme atau aliran lain yang berpotensi dapat merusak. Sebab, G30S/PKI merupakan peristiwa kelam yang pernah terjadi di Indonesia.
“Peristiwa G30S/PKI ini peristiwa yang juga terkait dengan peristiwa kelam yang ada di bangsa ini,” ujar Jazilul.
Kemudian, Jazilul menyebutkan bahwa Gatot dicopot dari jabatannya dengan melewati mekanisme yang benar, berdasarkan pertimbangan dari DPR. Justru, menurutnya, jika Gatot marah akan keputusan tersebut, maka ia tidak patriotik.
“Kalau Pak Gatot marah karena dicopot, justru Pak Gatot bukan patriotik,” tegas Jazulil.
Diketahui sebelumnya, tersebar pernyataan Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dalam channel Youtube Hersubeno Point, mengenai pencabutan dirinya pada 2017 lalu dikarenakan ia memerintahkan jajarannya untuk menonton film G30S/PKI.
“Pada saat saya menjadi Panglima TNI, saya melihat itu semuanya, maka saya perintahkan jajaran saya untuk menonton film G30S/PKI. Pada saat itu, saya punya sahabat dari salah satu partai, saya sebut saja partai PDI, menyampaikan, ‘Pak Gatot, hentikan itu. Kalau tidak, pasti Pak Gatot akan diganti,” ujar Gatot.
“Saya bilang, terima kasih, tapi disitu saya gas karena ini adalah benar-benar berbahaya. Dan memang benar-benar saya diganti,” tambah Gatot.
(IDM)