MALANG: Sebuah monumen berdiri kokoh di pertigaan Jalan Raya Pakisaji, Desa Jatirejo Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sesosok patung pria tampak gagah berbaju militer sambil menenteng senjata.
Pria pada patung di monumen itu ialah pejuang kemerdekaan bernama Serka Badjuri. Monumen tersebut diketahui dibangun sejak 1954 silam sebagai simbol perjuangan Serka Badjuri melawan agresi militer Belanda.
Salah seorang warga setempat, Remin (88 tahun) menceritakan, Badjuri merupakan sosok yang sangat berjasa besar dalam menyatukan semangat warga Pakisaji untuk memukul mundur tentara Belanda saat Agresi Militer 1 dan 2 pada 1947-1948.
"Makanya itu beliau dijadikan monumen di Pakisaji," katanya, Senin 16 Agustus 2021.
Remin mengaku, semasa mudanya dulu, ia pernah diajak Badjuri melawan tentara Belanda. Saat itu, Badjuri membutuhkan bantuan masyarakat karena kalah jumlah dan persenjataan melawan Belanda.
"Di Belanda itu senjata laras panjang. Indonesia bambu saja. Tapi dia (Badjuri) bilang, kita hanya punya bambu runcing tapi hanya dengan ini bisa melawan Belanda. Karena orang Jawa itu menganggap bambu sebagai hal keramat dan yakin dengan hanya itu bisa mengusir Belanda," kenangnya.
Bambu runcing yang digunakan melawan tentara Belanda ini, diceritakan Remin, memiliki ramuan khusus. Sebelum digunakan, bambu runcing diendapkan terlebih dahulu ke air lombok (cabai).
"Ya diendapkan ke air lombok sehari. Biar nanti ditusuk ke Belanda lukanya bisa membusuk kan pedas dan panas begitu," ujar kakek yang saat ini memiliki 13 cucu itu.
Sementara itu, warga setempat lainnya, Karmuji Wicaksono, 79, menceritakan, Serka Badjuri adalah salah satu tentara dari Laskar Hizbullah. Badjuri dikenalnya sebagai pria yang gagah dengan khas bulu tebal di dadanya. Ia menjadi yang terdepan mengamankan masyarakat desa yang merupakan target operasi tentara Belanda.
"Dulu saya pernah digendong pas umur 6 tahun sama Pak Badjuri. Saya ingat betul. Saya dibawa ke tempat pengungsian," kata mantan Kepala Desa Pakisaji periode 1990- 1999 itu.
Karmuji menceritakan, Badjuri wafat pada 1948 silam usai ditembak mati oleh sejumlah tentara Belanda. Lokasinya di sekitar Jalan Kauman Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji atau sebelah utara Pakisaji.
BACA: Kisah Kesaktian Bura, Si Pitung Bercelurit dari Jember
"Iya saya waktu itu mau potong rambut. Pagi-pagi jam 10.00 WIB apa jam 11.00 WIB begitu. Dan waktu itu saya dengar ada 13 tembakan ditembak ke Pak Badjuri," ungkapnya.
Jenazah Badjuri itu pun kemudian dimakamkan di belakang Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji. Kini, makam Arek asli Pakisaji itu telah dipindahkan ke TPU dekat Stasiun Pakisaji karena permintaan keluarganya
(TOM)