Wusss.....UIN Malang Ciptakan Kabut Anti Virus

Bilik KAVi buatan UIN Malang diklaim lebih ramah dan aman bagi manusia. (foto/metrotv) Bilik KAVi buatan UIN Malang diklaim lebih ramah dan aman bagi manusia. (foto/metrotv)

MALANG. Kolaborasi tiga mahasiswa dan dua dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Kota Malang menghasilkan alat baru untuk melawan  penyebaraan virus korona (covid-19).  Namanya  "Bilik KAVi " alias Kabut Anti Virus,  apa istimewanya?  

Sekilas, dilihat dari luar,  penampakan bilik KAVi  mirip dengan bilik penyemprot cairan desinfektan yang sudah banyak diproduksi massal  dan terpasang di berbagai tempat di Indonesia. Saat orang masuk, maka bilik ini akan mengeluarkan kabut bukan cairan. Wusss....

Jika jika diintip pada  bagian dalam bilik,  terutama di bagian mesin, maka semakin tampak banyak perbedaan. Duet dosen dan 3 mahasiswa Fakultas Teknologi UIN  Kota Malang ini  lebih memilih paduan cairan handsanitiser dengan teknologi nebulizer atau penguapan kabut. Cara ini diklaim ampuh mencegah virus dan lebih aman untuk manusia. 

Secara sederhana, cairan handsanitiser buatan internal kampus dimasukkan ke dalam tabung atau wadah di belakang bilik. Memanfaatkan 4 mesin penguap, cairan handsanitiser diubah menjadi kabut menggunakan penggetar ultrasonik dengan frekuensi getar 1 Mega Hertz  atau setara dengan 1, 6 juta getaran/detik


"Hasil proses ultrasonik tersebut  menjadikan cairan handsanitiser menjadi uap dingin atau kabut dengan ukuran partikel 1 mikron. Kabut ini kemudian ditiup kipas menuju bilik utama, " ujar Imam Tazi, Dosen Penemu Bilik Kavi  

 
Ada 2 pilihan dalam pemanfaatan bilik kabut kavi,  masing-masing manual serta otomatis. Untuk versi manual setiap pengguna dapat memencet tombol sebelum masuk ke dalam bilik. Sementara versi otomatis  menyala ketiak sensor gerak menangkap kehadiran manusia pada radius 4 hingga 5 meter.  

 
Meski di klaim lebih aman dan ramah dibandingkan alat penyemprot desinfektan.  Bilik kabut kavi tetap harus digunakan dengan SOP. Diantaranya dilarang menyalakan api atau rokok,  menggunakan telepon selular dan menutup mulut dan mata. Selain itu juga menggunakan masker wajah serta menahan nafas selama 10 hingga 25 detik ketika berada di dalam bilik

 
Saat ini, meski bilik kabut ini dalam pengajuan penerbitan hak paten ke lembaga HAKI Indonesia, namun pihak UIN sudah membagikan tutorial pembuatan bilik  kabut kavi melalui media youtube. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian dosen dan mahasiswa pencipta bilik kavi  terhadap bencana kemanusiaan, virus korona (covid -19)
 

Sementara  ,Rektor UIN Kota  Malang, Abdul Haris  mengatakan  pihak rektorat juga memproduksi 30 unit bilik KAVi  untuk  dibagikan secara gratis  di beberapa lokasi. Mulai rumah  ibadah, fasilitas kesehatan serta institusi kepolisan yang kini menjadi garda terdepan penanganan virus korona.

"Sekarang ada 22 unit yang jadi,  diantaranya sudah kita didistribusikan secara gratis dibeberapa tempat, seperti di rumah ibadah, institusi kepolisian dan lainnya,  " ujarnya.  


(TOM)